Sunday, December 23, 2018

Ngurilingan Bandung (3)

Keliling-keliling Kota Bandung



Alun-alun kota Bandung
Hari ketiga sebelum kembali ke rumah, rencana kita akan menghabiskan waktu di Alun-Alun Bandung yang direnovasi terakhir pada tahun 2014 dan diresmikan oleh Wali kota Bandung, Ridwan Kamil, dengan taman seluas 1.200 meter persegi, berdiri di atap sebuah bangunan parkir dan dibungkus dengan rumput hijau sintetis.

Hamparan rumput sintetis bisa digunakan warga untuk bermain dan bercengkrama dengan keluarga. Corak yang digunakan pada rumput sintetis baru juga terlihat menarik dengan garis-garis diagonal. Yang menarik adalah meskipun taman rumput sintetis ini diguyur hujan deras, dengan sistem drainase yang baik air tak akan menggenang lama di atas rumput sintetis itu.



Jalan Asia Afrika
Di dekat alun-alun Bandung terdapat jalan Asia Afrika. Jalan Asia Afrika berada di jantung Kota Bandung, sebagai saksi konferensi yang bersejarah, yang mempertemukan 29 negara se-Asia dan Afrika pada 18-24 April 1955, yang digelar di Gedung Merdeka.

Disini juga akan dijumpai gedung-gedung peninggalan kolonial dan boleh dibilang pusat Kota Tua yang ada di Bandung.



Gedung Sate
Pertanyaan simple yang ditanyakan oleh anakku tapi pada saat itu aku masih belum punya jawabannya, yaitu mengapa gedung tersebut disebut dengan gedung sate? Gedung Sate disebut dengan nama tersebut adalah karena ciri khas ornamen tusuk sate pada menara sentral.

Ciri khas tersebut berupa ornamen 6 tusuk sate yang ada di atas menara sentral yang melambangkan 6 juta Gulden yang dipakai untuk membangun gedung berwarna putih ini pada masanya, yaitu saat dibangun pada tahun 1920, dan hingga saat ini berdiri kokoh dan berfungsi sebagai pusat pemerintahan kota Bandung.



Kartika Sari
Jam makan siang telah tiba, kita menuju Kartika Sari yang berada di daerah Dago. Dago adalah kelurahan di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Dago, dagoan berasal dari bahasa sunda yang artinya "menunggu", pada zaman dahulu pada masa penjajahan Belanda, penduduk di daerah utara Bandung memiliki kebiasaan untuk saling menunggu untuk pergi bersama-sama ke kota, yang mana pada masa itu, rute yang ditempuh menuju kota melewati daerah yang masih tergolong sepi dan rawan binatang buas.

Di sana terdapat toko Kue Kartika Sari yang merupakan toko kue di Bandung yang populer dan sangat ramai dikunjungi, konon oleh-oleh khas bandung ini telah dirintis sejak tahun 1970.



Kampus ITB
Setelah perut kenyang, saatnya perjalanan terakhir menuju Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, namun sebelumnya kita akan menuju kampus ITB (Institut Teknologi Bandung). Kampus ITB terdiri dari 3 (tiga) lokasi, yaitu ITB-Ganesha, ITB- Jatinangor, dan ITB-Bekasi.

Dan kampus ITB yang kita tuju ini adalah kampus ITB-Ganesha, dimana sebelumnya bernama Technische Hoogeschool te Bandung yang berdiri sejak tahun 1920. Masuk di depan terdapat Taman Ganesha yang secara spasial merupakan bagian dari kampus ITB.


Dan akhirnya usai sudah perjalanan keliling kota Bandung. Pukul 14.30 kita sudah berada di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara yang merupakan bandar udara internasional yang terletak di Jalan Pajajaran Nomor. 156, kelurahan Husen Sastranegara, kecamatan Cicendo, kota Bandung.

Berbeda saat berangkat yang memakan waktu hingga 14 jam 30 menit, perjalanan pulang ini ditempuh cukup singkat, yaitu berangkat pukul 17.50 tepat dan landing di Juanda pukul 18.50, dan kita sudah berada di taxi pukul 19.20 menuju rumah sesuai jadwal.


Next :
Ngurilingan Bandung (1) : Farmhouse Susu Lembang, Observatorium Bosscha dan Floating Market Lembang
Ngurilingan Bandung (2) : Graha Pos Indonesia, Cihampelas Walk, Teras Cihampelas

Previous :
Ngurilingan Bandung : Mutiara Selatan

No comments:

Post a Comment