Thursday, September 26, 2019

Wonderful Indonesia

Bermula dari keinginan kecil dalam memberikan sedikit sumbangsih untuk mempromosikan wisata Indonesia yang sangat beragam dan sangat indah, kemudian aku sejak tahun 2013 lalu membuat 1 (satu) blog yang ingin mengangkat mengenai keindahan alam Indonesia.

Blog tersebut beralamatkan indonesiawonderfulasia.blogspot.com

Terlepas dari banyaknya hal negatif dan buruk yang menerpa negeri Indonesia, aku rasa sudah ada terwakilkan suara rakyat yang kecewa dan mengkritik dengan caranya sendiri yang aku yakin bertujuan agar Indonesia agar lebih baik.

Dan agar berimbang, haruslah ada yang mengangkat dari segi yang lain. Setidaknya harus ada yang memilih menyalakan lilin ketimbang mengutuk kegelapan.
Artikel pertama yang aku angkat adalah mengenai Wonderful Indonesia Logo. Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia adalah janji pariwisata Indonesia kepada dunia akan ketakjuban, dari alam maupun budayanya.

Bentuk dasar dari logo Wonderful Indonesia adalah burung, karena burung dianggap melambangkan hidup damai antar sesama, yaitu burung yang merentangkan sayap, yang mempunyai makna memberikan arti keterbukaan dan hasrat untuk terbang jauh melintasi batas.

Kemudian rentangan sayap tersebut menggunakan 5 (lima) warna yang berbeda pada setiap bulu yang digurat pada logo Wonderful Indonesia. Makna dari 5 warna tersebut adalah :
  • Warna hijau bermakna kreativitas, ramah pada alam dan keselarasan. 
  • Warna ungu berati kesatuan lahir batin, keamanan, dan imajinasi. 
  • Warna jingga bermakna inovasi, semangat pembaruan dan keterbukaan. 
  • Warna biru berarti kedamaian, keteguhan, kesemestaan.
  • Warna magenta melambangkan keseimbangan, sifat praktis dan akal yang sehat. 

Hingga kemudian 6 tahun berselang, akhirnya aku mendapatkan email dari Kementerian Pariwisata Indonesia yang menyatakan apresiasi dan terima kasih atas blog yang telah membantu memajukan dan mengenalkan pariwisata Indonesia dengan memuat berbagai konten menarik seputar wisata Indonesia beserta logo Wonderful Indonesia.

Namun dikarenakan sejak akhir tahun 2017, logo Wonderful Indonesia mengalami sedikit perubahan untuk mengakomodir brand nasional, sehingga diharapkan logo Wonderful Indonesia tersebut diupdate.


Bagi 25 (dua puluh lima) bloggers pertama yang mengirimkan e-mail konfirmasi akan mendapatkan paket official merchandise Wonderful Indonesia.

Dan hari ini aku mendapatkan paket official merchandise Wonderful Indonesia tersebut. Yang terdiri dari
  • Tas ransel
  • Shopping bag
  • Tas serut
  • Tumbler
  • Lego

Terima kasih kepada Kementerian Pariwisata Indonesia atas paket official merchandise Wonderful Indonesia. Dan semoga blog indonesiawonderfulasia.blogspot.com bisa membantu mengenalkan pariwisata Indonesia dengan logo Wonderful Indonesia-nya.

Wednesday, September 25, 2019

Membiasakan Kebenaran bukan Membenarkan Kebiasaan

Umumnya kita terpedaya dengan pendapat mayoritas, perilaku mayoritas, menjadikannya sebagai standar menilai kebenaran. Penilaian dengan hanya berdasarkan hal tersebut tanpa melihat dalil yang mendukungnya, merupakan cara yang keliru.

Memang kebiasaan adalah suatu hal yang sulit untuk dirubah, terlebih jika kebiasaan keliru terjadi karena perilaku yang berulang-ulang. Pemandangan keliru menjadi sesuatu yang sudah dianggap “biasa”.

Kita semua mengharapkan perubahan. Perubahan hanya bisa datang kalau para individu mau “bergerak” bukan hanya dengan omongan atau berwacana saja.

Suatu organisasi perlu memiliki sumber daya (terutama teknologi dan finansial) yang cukup untuk mendongkrak perubahan, terutama faktor human capital. Semuanya itu perlu dikelola dengan baik oleh manajemen, terutama para pemimpinnya untuk merubah cara berpikirnya, dan merubah paradigma.

Membiasakan yang benar membutuhkan keteladanan, keberanian dan konsistensi tingkat tinggi. Setidaknya kita bertanggung jawab untuk membiasakan diri dalam hidup yang benar.

Monday, September 23, 2019

Cappuccino vs Caffe Latte

Jika berkunjung ke kedai kopi, ada 2 yang sering aku pesan, yaitu cappuccino dan caffe latte. Keduanya mirip dan hampir memiliki rasa yang sama. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki tambahan milk foam dan steamed milk.

Jadi meski sama-sama terbuat dari espresso dan susu, yang membedakan cappuccino dan caffe latte adalah jumlah takaran susu dan banyaknya foam yang ditambahkan ke dalam espresso. Tentunya banyaknya susu yang ditambahkan ini akan turut memengaruhi rasa kopi yang disajikan.

Sehingga rasa cappuccino dan latte tentu saja tidak sama.


Mari kita bahas satu persatu

Caffe Latte

Latte dikenal sebagai café au lait dalam bahasa Perancis, café con leche dalam bahasa Spanyol, dan Milchkaffee dalam bahasa Jerman. Latte adalah susu bukan buih susu sehingga jumlah susu dalam latte cukup signifikan.

Caffe latte adalah kopi espresso yang diberi susu. Orang Indonesia kerap saat memesan kopi ini hanya menyebut “latte” saja. Di Italia, latte berarti susu. Jadi jika Anda memesan latte, maka Anda akan diberi segelas susu.

Untuk membuat caffe latte adalah pada proses steaming susunya. Umumnya, proses steaming susu ini berfungsi untuk dua hal, yaitu memanaskan susu hingga mencapai temperatur tertentu sesuai dengan yang diinginkan dan untuk menghasilkan micro foam.

Komposisi caffe latte sebagai berikut:
∙ Double shot espresso (sekitar 60 ml).
∙ Susu yang di-steam, biasanya hampir secangkir penuh.
∙ Micro foam kira-kira hanya setebal 1 cm di lapisan atasnya.

Caffe Latte disajikan dengan busa di atasnya yang hanya digunakan untuk hiasan untuk membuatnya lebih menarik. Agar menarik sering dibuat hiasan pada caffe latte, seperti berbentuk hati atau daun.



Cappuccino

Resep standar cappuccino terdiri atas sepertiga espresso, sepertiga susu, dan sepertiga busa susu. Minuman ini memiliki lapisan tebal busa di atasnya. Cappuccino memiliki rasa lebih kuat dibandingkan dengan latte tetapi dengan atribut rasa seimbang.

Cappucino adalah salah satu jenis racikan kopi yang disajikan dengan steamed milk. Di Italia, tak ada orang yang memesan cappuccino lewat dari pukul 10.00 pagi. Orang Italia meminum cappuccino hanya untuk sarapan. Hal ini karena cappuccino mengandung susu.

Komposisi cappuccino sebagai berikut:
∙ 1/3 espresso
∙ 1/3 steamed milk
∙ 1/3 milk froth

Jadi cappuccino adalah kopi dengan takaran yang sama untuk setiap komposisinya (espresso, susu steamed, dan froth susu). Saat kita meminum cappucino, kita umumnya akan merasakan foam yang agak tegas dan bold di saat pertama tegukan, lalu diikuti kopi dengan rasa milky yang kuat setelahnya.

Cappucino tidak memakai art di permukaannya. Cappuccino biasanya dihiasi dengan taburan bubuk kayu manis di atasnya, atau di-garnish dengan bubuk coklat.

Sunday, September 22, 2019

Non-Profit Organization

Dalam masyarakat terdapat lembaga berdasarkan sumber dana untuk operasionalnya dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) bagian besar, yaitu:
  1. Lembaga komersial, yaitu bentuk lembaga yang dibiayai oleh laba atau keuntungan dari kegiatannya, lewat produk yang dihasilkan atau jasa yang diberikannya;
  2. Lembaga pemerintahan, yaitu lembaga yang dibiayai oleh masyarakat lewat pajak dan retribusi. Tergolong lembaga jenis ini adalah instansi pemerintah;
  3. Lembaga non-profit, yaitu lembaga yang dibiayai oleh masyarakat lewat donasi atau sumbangan.

Lembaga non-profit sebagai suatu lembaga non-profit dibagi ke dalam 4 (empat) jenis, yaitu :
  1. Lembaga non-profit donasi-lembaga ini mengadalkan pendapatannya dari sumbangan;
  2. Lembaga non-profit komersial-lembaga ini pendapatannya berasal dari anggota berupa charge atau sewa dari pemakaian harta lembaga ini;
  3. Lembaga non-profit mutual-lembaga yang dikelola oleh para anggotanya yang notabene adalah pemakai jasa dari lembaga itu sendiri;
  4. Lembaga nirlaba enterprenurial-lembaga ini dikelola oleh para professional yang memang khusus diberi gaji untuk mengelolanya.

Berikut beberapa sumber pendanaan yang dapat dipakai oleh organisasi nonprofit untuk membiayai kegiatan dan menjamin keberlanjutannya.
  1. APBN/APBD. Dalam UU No.16 Tahun 2011 tentang bantuan hukum (UU Bantuan Hukum), pendanaan bantuan hukum dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam Peraturan Presiden No.16 Tahun 2018 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah. Dari APBD, pada tahun 2017 kemarin Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelontorkan dana hibah kepada seratusan lebih organisasi masyarakat sipil di wilayah DKI Jakarta. 
  2. Sumbangan/donasi masyarakat. Survey yang dilakukan oleh PIRAC pada tahun 2000, 2004, dan 2007 menunjukkan adanya kenaikan dari besaran jumlah sumbangan per individu setiap tahunnya. Pada tahun 2000 rata-rata besarnya sumbangan masyarakat Indonesia sebesar Rp 386.800/orang/tahun, meningkat menjadi Rp 884.983/orang/tahun di tahun 2004, kemudian meningkat lagi di tahun 2007 menjadi Rp 926.750/orang/tahun.
  3. Filantropis/Orang Super Kaya. Terdapat yayasan keluarga untuk menjalankan kegiatan di bidang filantropi. Sebut misalnya Yayasan Hadji Kalla, CT Arsa Foundation, Mien R Uno Foundation, William and Lily Foundation, Yayasan Tahija, dan sederet yayasan keluarga yang bergerak di dunia filantropi. 
  4. Lembaga donor lokal 
  5. Lembaga donor internasional
  6. Lembaga pembangunan internasional. Misalnya World Bank, Asian Development Bank, Islamic Development Bank, ataupun lembaga-lembga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) semisal United Nation Development Program (UNDP), Unicef, UNHCR, dan lainnnya. 
  7. NGO Internasional. Misalnya Care International, Catolic Relief Service, Conservation International, Fauna and Flora International, dan sejumlah NGO internasional lainnya.     
  8. Pemerintah luar negeri. Bantuan pendanaan ataupun kerja sama program dari USAID, AUSAID, dan lembaga-lembaga serupa milik pemerintah negara-negara lain. 
  9. Perusahaan/korporasi
  10. Sayap usaha/bisnis. Beberapa kegiatan usaha yang menghasilkan profit antara lain berupa penerbitan buku-buku, menjual jasa pelatihan, menyewakan gedung/ ruang pertemuan, serta jenis usaha lainnya yang dijalankan oleh organisasi nonprofit untuk menunjang kegiatan mereka dan menjamin keberlanjutan organisasi. 
Lalu bagaimana agar organisasi non-profit bisa survive. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan.
  1. Media sosial komunitas aktif dan punya konten menarik agar menjadi gerbang informasi yang baik dan nilai tambah, misalnya saat mencari sponsor acara.
  2. Buat jadwal kopi darat (kopdar) dalam komunitas secara rutin. Atur dengan baik agar tidak ada jadwal anggota yang bentrok.
  3. Menyiapkan program komunitas dan para anggota harus terlibat untuk membangun visi-misi bersama.
  4. Bikin merchandise komunitas untuk branding di masyarakat.
  5. Networking dengan komunitas lain, misalnya event festival komunitas ataupun activity online antar komunitas.
Dalam komunitas, terdapat kisah umum yang akan dijalani agar bisa bertahan hidup. Pengalaman dari beberapa organisasi lain pada umumnya memiliki bebrapa titik-titik paling krusial yang harus dijaga untuk menjaga keberlangsungan kelompok, yaitu :
  1. Kepemimpinan. Menjaga api idealitas, dan menemukan talenta, keduanya tugas seorang pemimpin dalam sebuah komunitas.
  2. Kebosanan. Rutinnya kita mengadakan kegiatan demi kegiatan dalam organisasi, hal tersebut merupakan prinsip mendasar dari sebuah gerakan, yakni konsistensi. Namun di sisi lain hal ini menjadikan kegiatan sebuah komunitas sebagai hal yang monoton, sehingga dapat menjadi kebosanan yang dapat memuncak dari tahun ketahun.
  3. Scale Up, menjadi konsekuensi logis dari sebuah keberadaan komunitas yang telah berjalan cukup lama (sekitar 4–5 tahun), karena komunitas aspek kebosananan setelah hanya dengan bergerak konsisten. Maka perlu dipikirkan bagaimana memperbesar dampak dari keberadaannya di masyarakat, yaitu dengan meningkatkan skala atau memperbesar ukuran. 

Sumber :
http://lingkarlsm.com/definisi-lembaga-non-profit/
https://www.hipwee.com/tips/6-tips-jitu-supaya-komunitas-yang-kamu-bangun-semakin-maju-simak-ya-buat-referensimu/
https://www.kompasiana.com/samsulmaarif5167/5c9ba59595760e255970d1a2/dari-mana-sumber-dana-organisasi-nonprofit?page=all

Thursday, September 19, 2019

Latte Effect

Salah satu kebutuhan sekunder manusia adalah gaya hidup atau lifestyle yang menggambarkan keseluruhan diri seseorang dalam beraksi dan berinteraksi. Para marketer banyak yang paham hal ini dan dimanfaatkan oleh market.

Kebiasaan yang menjadi tren saat ini, salah satunya adalah melepas penat sambil ngobrol ringan di coffee cafe. Duduk sambil menikmati waktu luang di cafe kopi dengan secangkir kopi sangatlah mengasyikkan.

Kebiasaan ini disebut dengan latte effect. Istilah Starbucks Effect terkadang digunakan juga di Amerika Serikat, yaitu kebiasaan meminum kopi di kedai-kedai seperti Starbucks melahirkan dan menjadi sebuah istilah ekonomi.


Latte effect juga digunakan di dunia keuangan menjadi istilah tentang keborosan yang biasanya dilakukan oleh kelompok kelas menengah ini. Sebuah study di Amerika mereka menghabiskan uang rata-rata sebesar US$ 3 setiap hari untuk membeli secangkir kopi.

Sehingga Latte effect bisa didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang melakukan pengeluaran misalnya ngopi di cafe atau pengeluaran untuk cemilan yang dilakukan hampir setiap hari. Latte effect terkadang berdampak bukan hanya sekedar tidak mampu menabung, tapi hingga ada yang terjerat beban hutang.

Latte factor ini tidak hanya berwujud kopi, bisa macam-macam, mulai dari biaya membeli air mineral kemasan, belanja cemilan, hingga biaya transfer antar bank. Setiap orang memiliki latte factor-nya masing-masing.

Sebuah istilah tentang keborosan kelompok kelas menengah Amerika yang menghabiskan uangnya rata-rata sebesar US$ 3 setiap hari hanya untuk membeli secangkir kopi ketimbang menabung. Semestinya dana US$ 3 tersebut dapat diinvestasikan dan bisa sebagai jaminan masa pensiun.

Hitungan sederhana, seharusnya sebulan bisa hemat US$ 90 dan setahun US$ 1.080. Sehingga akan menjadi besar jika angka tersebut bisa diungkit (leverage) misalnya dengan asumsi dengan imbal hasil 8% selama 10 tahun.

Sedangkan sebuah survei internal yang dilakukan Bank Permata menunjukkan 9 dari 10 orang menggelontorkan lebih dari Rp900 ribu untuk latte factor setiap bulannya. Pengeluaran latte factor terbesar adalah pada kebutuhan sandang yang sekunder, seperti lipstik, sepatu dan baju—hanya untuk menambah koleksi, tas, syal, aksesori, dan lainnya. Angkanya mencapai 58 persen.

Pengeluaran terbesar kedua tercatat pada taksi atau transportasi online yang mencapai 15 persen. Ini adalah jenis pengeluaran yang bisa dihemat jika menggunakan kendaraan umum massa seperti kereta atau bus.

Lalu ada biaya membeli makanan dan minuman ringan yang mencapai 11 persen. Sementara untuk kopi setiap pagi menghabiskan 9 persen dari total pengeluaran latte factor masing-masing responden. Ada pula biaya untuk membeli air mineral, rokok, hingga biaya administrasi bank.

Menarik untuk diulas lebih lanjut. Untuk lebih mendalam terdapat sebuah buku yang mengulas tuntas hal tersebut, yaitu The Latte Factor: Why You Don't Have to Be Rich to Live Rich.

You are richer than you think! Learn my three secrets to financial freedom. The Latte Factor, a fast, easy read reveals how anyone—from millennials to baby boomers—can still make their dreams come true.

bersambung.....


Sumber :
https://www.thelattefactor.com/
https://datapolis.id/the-latte-effect/
https://krjogja.com/web/news/read/23521/Latte_Effect
https://kauadalahkata.wordpress.com/2011/05/19/the-latte-effect-2/
https://tirto.id/latte-factor-pengeluaran-kecil-yang-membuat-bokek-cilW

Menata Aktivitas Ekonomi Jatim


Indonesian Production and Operation Management Society (IPOMS) adalah komunitas non profit yang bertujuan untuk memajukan SDM dan Industri di Indonesia.

Komunitas ini secara berkala melakukan belajar bersama mengenai berbagai topik yang berhubungan dengan Production & Operations Management.

Study Group ke-34 bertema Tantangan & Potensi Jawa Timur sebagai basis Supply Chain Kawasan Indonesia Timur.

Mereka mendatangkan dua narasumber Wahyu Adi dan Hariyanto Salim.

Acara dilaksanakan pada hari Minggu, (15/9/), Pukul 09.00 - 15.00 di Departemen Manajemen Teknologi ITS (MMT-ITS), Kampus ITS Tjokroaminoto, Surabaya.

Agung Ektika, Ketua IPOMS Chapter Surabaya periode 2019-2024, berharap event ini semoga bermanfaat bagi kita bersama. Kegiatan itu akan terus berlanjutdengan aktivitas lain yang sudah disiapkan pengurus.

Materi pertama disampaikan oleh Hariyanto Salim tentang Revolusi industri 4.0. menurutnya itu dengan gamblang terlihat misalnya pada GoJek dan Amazon Prime. Beberapa masalah dapat terselesaikan dimanapun, kapanpun serta instan.

Sesi kedua dibawakan oleh Wahyu Adi, dengan moderator Agung Ektika. Ia menyampaikan saat ini Indonesia telah berhasil membangun siklus ekonomi yang sehat, sehingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Itu dibuktikan pada tahun 2000, peringkat PDB global, Indonesia masih berada di angka 27. Kemudian pada tahun 2016, peringkat Indonesia sudah naik di angka 16.

Indonesia berpotensi beraspirasi untuk menjadi top 10 ekonomi dunia di tahun 2030, sehingga dapat menjadi mesin pertumbuhan berikutnya pada ekspor netto. Hal ini bisa menjadi kenyataan, terlebih 15 tahun ke depan merupakan "masa emas" bagi Indonesia yang akan menikmati bonus demografi.

Taufan Yanuar
Pemerhati Logistik dan Supply Chain
yanuartaufan@gmail.com


Sumber :
https://surabaya.tribunnews.com/2019/09/19/tantangan-potensi-jawa-timur-sebagai-basis-supply-chain-kawasan-timur-indonesia.

Tuesday, September 17, 2019

Keep it Simple, Stupid

“If you can’t explain it to a six year old, you don’t understand it well enough.”-Albert Einstein
Apa yang dikatakan oleh Albert Einstein sejalan dengan istilah "Keep it Simple, Stupid" atau "Keep it Stupid Simple". Atau yang dikenal dengan prinsip KiSS. Variasi pada frasa tersebut meliputi: "Keep it simple, silly""keep it short and simple""keep it simple and straightforward""keep it small and simple", or "keep it stupid simple".


Prinsip KiSS menyatakan bahwa sebagian besar sistem bekerja paling baik jika dibuat sederhana daripada dibuat rumit; oleh karena itu, kesederhanaan (simplicity dan simplicity II) harus menjadi tujuan utama dalam desain, dan kompleksitas yang tidak perlu harus dihindari.

Ungkapan ini telah dikaitkan dengan insinyur pesawat terbang Kelly Johnson. Istilah "prinsip KiSS" mulai digunakan pada tahun 1970. Sumber lain mengatakan pertama kali prinsip ini dikemukakan adalah oleh Angkatan Laut Amerika Serikat di tahun 1960.

Tapi pada intinya para insinyur di salah satu angkatan laut terbesar di dunia itu menemukan bahwa sebuah sistem ternyata beroperasi dengan baik ketika dibuat dengan sesederhana mungkin. Semakin sederhana, semakin baik karena menghindarkan kerumitan yang memperbesar kemungkinan terjadinya kesalahan.

Kisah lain yang sangat terkenal mengenai prinsip KiSS adalah cerita mengenai NASA yang seedang mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena.

Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu decade dan 12 juta dolar.

Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Namun apa yang dilakukan oleh saingan abadi mereka yaitu orang Rusia, mereka menggunakan prinsip KiSS, menggunakan pensil.

Filosofi KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada.

Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada berfokus pada masalah.


Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/KISS_principle
http://www.fotografi.lovelybogor.com/prinsip-kiss-keep-simple-stupid/
https://kusdiyono.wordpress.com/2011/05/02/filosofi-kiss-keep-it-simple-stupid/
https://www.interaction-design.org/literature/article/kiss-keep-it-simple-stupid-a-design-principle
https://www.convictiontraining.com/050-keep-it-simple-stupid/podcasts

Related Posts