Monday, October 5, 2015

10 Tahun Karier


Tidak terasa perjalanan karir selepas dari bangku perkuliahan telah berjalan 10 tahun. Sepuluh tahun tersebut aku lalui bersama 4 perusahaan yang berbeda di 4 kota yang berbeda pula. Bahkan bidang dari perusahaan tersebut juga berbeda.

Mulai dari kota Jakarta, Batam, Surabaya hingga sekarang di Sidoarjo.

Mulai dari bidang Otomotif, Elektronika, Manufacturing dan Consumer Good.

Banyak pengalaman dan pelajaran yang aku petik. Tidak hanya pelajaran di dunia kerja yang bersifat teknis, tapi juga pengalaman hidup yang bersifat non teknis. Yang tentunya tidak aku dapatkan selama belajar di sekolah maupun saat kuliah.

Di awal karier salah satu yang perlu dipersiapkan atau tips saat interview agar sukses adalah kita perlu membuat success story. Baik kisah sukses selama kuliah atau cerita sukses saat bekerja. Sehingga saat menjawab pertanyaan dari pe-wawancara kita akan jauh lebih gamblang dengan memberikan contoh success story tersebut.

Lalu saat sudah 10 tahun berkarier, kondisi berbalik. Jika dulu di-interview, maka kali ini aku meng-interview calon karyawan.

Ada petuah yang harus kita cam-kan saat akan menjadi pe-wawancara, yaitu yang akan kita kemas dalam sebuah cerita.

Konon tersebutlah seekor anak unta yang bertanya kepada ibunya mengenai fungsi punuk yang dimilikinya. Dengan bijak ibu unta menjawab bahwasanya punuk itu berfungsi sebagai cadangan air sehingga unta akan jauh lebih tangguh meski berada di gurun pasir yang panas dan tandus.

Lalu anak unta tersebut bertanya lagi, mengapa bulu matanya lentik. Kembali sang ibu unta menjawab, bahwasanya bulu mata yang lentik itu berfungsi untuk melindungi mata dari pasir yang berterbangan dari gurun pasir yang berangin.

Kemudian anak unta bertanya lagi mengenai bentuk kaki yang dimilikinya, lagi-lagi ibu unta menjawab bahwasanya bentuk kaki tersebut akan sangat berfungsi saat berjalan di pasir saat mengarungi gurun pasir yang luas.

Namun unta yang lain bertanya, bahwa kita sedang berada di kebun binatang bukan gurun pasir, lalu apa manfaatnya?

Diatas hanyalah contoh dari analogi yang bisa dicuplik. Yang kurang lebihnya mengandung hikmah, saat merekrut pegawai kita tidak mencari orang yang super, yang hebat disegala bidang, namun harus kita cocokkan orang yang akan direkrut dengan bidang yang akan dikerjakan.

Misalnya kita akan merekrut data entry atau seorang akuntan, maka kita tidak perlu mencari orang yang sangat mahir dalam bicara. Atau kita akan merekrut seorang resepsionis, maka kita tidak perlu mengetesnya dengan soal matematika yang rumit maupun yang sederhana,