Wednesday, October 7, 2015

Over Supply


Meski bukan ahli ekonomi, tapi dikarenakan krisis yang terjadi akhir-akhir ini sangat menarik perhatian, jadi saat ini lebih banyak membaca ulasan dari pakar ekonomi. Banyak teori dan pendekatan mengenai penyebab dan solusi seputar segala sesuatu apa yang kita sebut dengan krisis.

Salah satu penyebab krisis ini adalah dikarenakan sistem ekonomi dunia sehingga menyebabkan ekonomi saat ini layaknya zombie atau beberapa pakar menyebutnya dengan zombie ekonomi.

Di negara lain misalnya di China beberapa waktu lalu sempat mengalami kerugian 3500 triliun dollar di Stockmarket, sehingga kondisi ini memaksa pemerintah China mengelontorkan dana agar pasar sahamnya tidak crash. Bahkan dikarenakan rendahnya permintaan tersebut, pemerintah China menurunkan mata uangnya atau devaluasi.

Beberapa pakar ekonomi mengatakan bahwa dunia terutama di Indonesia beberapa tahun terakhir ini sudah cukup puas menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi sehingga ada rasa over-optimistik. Over-optimistik atau over confidence ini mengakibatkan banyak perusahaan mengenjot produksi sehingga terjadi over-supply.

Siklus ekonomi memang mirip roda berputar, dimana ada masanya turun yaitu saat terjadi over-supply di pasar. Kondisi over supply ini dapat diakibatkan oleh 2 hal, yaitu
1. Kompetisi
2. Efisiensi

Dengan ada banyaknya perusahaan dan pesaing mengakibatkan semua perusahaan berlomba-lomba dan berkompetisi memproduksi barang sejenis, sehingga stok barang di pasar melimpah, dan otomatis hukum pasar berlaku dan menyebabkan harga menjadi turun.

Selain karena faktor ekternal, yaitu kompetisi, faktor internal juga berpengaruh terhadap timbunya over supply. Sudah jamak bahwa tiap perusahaan dengan Departemen Industrial Engineering-nya melakukan perubahan ke arah yang lebih efektif dan efisien sehingga timbul efisiensi. Dengan efisiensi perusahaan dapat membuat barang dengan cost yang lebih murah atau dengan kata lain perusahaan dapat membuat produk dalam jumlah yang lebih banyak.

Dengan kondisi serba over supply begini semestinya perusahaan pesaing yang tidak dapat berkompetisi dan tidak mampu bersaing akan tutup sehingga nantinya akan tercipta titik equilibrium baru.

Over supply contohnya adalah ada pada bisnis properti, central business district (CBD) atau gedung perkantoran di pusat bisnis Jakarta dihantui kekosongan yang dikarenakan terbatasnya permintaan, hal ini masih ditambah okupansi yang rendah terhadap beberapa gedung yang baru saja selesai dibangun. Tak pelak akhirnya mengalami kelebihan pasokan (over supply).

Over supply yang lain adalah minyak mentah. Minyak mengalami over supply sehingga minyak yang beredar di pasaran melimpah karena terlalu banyak minyak yang diproduksi. Kondisi over supply minyak mentah ditandai dengan turunnya harga minyak mentah. Semula harga minyak masih di angka 97.37 dolar AS per barrel yaitu pada Agustus 2014 namun pada Agustus 2015 turun menjadi 43.56 dolar AS per barrel.


Sumber artikel :
http://valuesmag.com/2015/08/krisis-tiongkok-minyak-dan-emas/
http://properti.kompas.com/read/2015/10/01/110000021/.Over.Supply.Perkantoran.Jakarta.Dihantui.Kekosongan?page=all


Sumber foto :
mirkoilic.blogspot.com