Monday, October 26, 2015

Fenomena Go-jek


Dalam membangun sebuah bisnis kita harus mempertimbangkan 4 hal, yaitu
  1. Business Model
  2. Core Recources
  3. Value Propotition
  4. Cost Structure 
Case study yang akan kita bahas adalah fenomena Go-jek yang semakin mengakar dalam melebarkan sayapnya. Go-jek adalah perusahaan bisnis transportasi yang dalam mencapai tujuan perusahaan mengaplikasikan Sided Marketplace sebagai Business Model-nya yaitu transaksi antara dua kelompok berbeda (Driver Go-jek dan penumpang Go-jek) yang tentunya saling menguntungkan.

Sedangkan Core Recources atau sumber daya dari bisnis Go-jek adalah layaknya bisnis transportasi lainnya, yang terdiri dari:
  1. Kendaraan
  2. Driver
Hebatnya Go-jek dapat menjalankan bisnisnya dengan menggunakan ribuan kendaraan dan driver tanpa harus memiliki dan merekrutnya. Sehingga beberapa penghematan biaya dan efisiensi yang didapat dari bisnis Gojek ini adalah :
  1. Pengadaan kendaraan.
  2. Fix cost driver menjadi variable cost
  3. Depresiasi kendaraan
  4. Maintenance kendaraan
  5. Pool kendaraan
Go-Jek menawarkan beberapa jasa layanan dengan jarak maksimal pemesanan untuk semua layanan adalah 25 kilometer, yaitu :
  1. Go-send (Instant Courier)
  2. Go-ride (Transport)
  3. Go-food (Shopping)
  4. Go-mart (Shopping)
  5. Go-box (Instant Courier)
  6. Go-clean
  7. Go-glam
  8. Go-massage
Go-jek yang didirikan pada 2011 ini menjadi revolusi industri transportasi dimana Go-jek menjadi social enterpreneurship inovatif untuk mendorong perubahan sektor transportasi informal agar dapat beroperasi secara profesional. Go-Jek merupakan inovasi disruption business yang mampu mengubah perilaku pasar pada umumnya yang sudah berjalan sebelumnya.

Manajemen Go-jek menerapkan sistem bagi hasil yaitu 80% penghasilan untuk pengemudi ojek dan 20%-nya untuk Go-jek. Saat ini Go-jek sedang berusaha menghimpun pengguna sebanyak mungkin. Sebagai perusahaan teknologi berbasis internet, Go-jek bisa jadi tidak akan menarik keuntungan dari bayaran penggunaan jasa, tapi dari sektor misalnya iklan dan keuntungan dari data pengguna yang dimilikinya, layaknya perusahaan teknologi raksasa dunia, Google.

Nadiem Makarim sebelumnya bekerja sebagai CEO di toko online fesyen Zalora, lalu Nadiem memutuskan hengkang dari Zalora pada 2014. Go-jek mempunyai 4 strategi.
  1. Mencari pengemudi ojek lebih banya dengan tidak melupakan faktor kenyamanan dan keamanan dengan memberikan pelatihan keselamatan dengan bekerjasama dengan Rifat Drive Labs (RDL) dan menyiapkan asuransi.
  2. Melebarkan wilayah operasi, yaitu dengan masuk di 4 wilayah yakni Jabodetabek, Bandung, Surabaya dan Bali.
  3. Memperbanyak fitur aplikasi.
  4. Menggelar promosi. 
Untuk memuluskan strategi tersebut, Go-jek mendapatkan dana yang cukup besar dari investasi yang digelontorkan oleh Northstar Group, perusahaan investasi yang bermarkas di Singapura, dimana melalui NSI Ventures sudah menyuntikkan dana ke Gojek Indonesia sejak tahun 2014.


Sumber ;
http://realcoffeelatte.blogspot.co.id/2015/08/go-jek.html
http://realcoffeelatte.blogspot.co.id/2015/09/gojek-promo-10-ribu.html
http://www.kaskus.co.id/thread/55b9ac1cc3cb17fd5b8b4567/memperpanjang-promo-ini-cara-go-jek-memperoleh-keuntungan/
http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150715123802-185-66519/gojek-perpanjang-tarif-rp-10-ribu-ke-mana-saja/
http://industri.kontan.co.id/news/gojek-indonesia-memburu-pendapatan-bisnis-ojek