Wednesday, March 15, 2017

Shaf yang Rapat

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. (HR. Muslim no. 433)

“Dulu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, “Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.” 
(HR.Muslim no. 436)


Hadist diatas merupakan anjuran kita umat muslim saat menunaikan ibadah sholat berjamaah yaitu agar senantiasa meluruskan dan merapatkan shaf. sholat. Kebetulan malam hari sebelum tidur aku melihat video di youtube ceramah Ahmed Deedat mengenai makna shaf yang rapat dalam sholat. Anda bisa melihat mulai dari menit 19:49 hingga menit 24:50.

Link video youtube tersebut adalah https://www.youtube.com/watch?v=CwhiMuY_wKg&feature=youtu.be

Akan saya coba saripatikan dalam artikel ini. Namun saya sarankan untuk melihat video tersebut agar lebih jelas dalam penjelasan makna shaft yang rapat dalam sholat yang dijelaskan oleh Ahmed Deedat.

PERTANYAAN :Mr Deedat anda menyebutkan masalah penduduk kulit hitam dan masalah rasial yang ditimbulkannya, bagaimana menurut pandangan Islam cara mengatasi masalah ini?
JAWABAN :Allah SWT berfirman dalam Al Quran "Hai manusia, di sini yang diseru manusia seluruhnya bukan hanya muslim, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal, bukan untuk saling menyisihkan dan saling menindas satu sama lainnya tapi untuk saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. (QS 49 : 13).

Inilah standar yang diberikan Allah SWT, bukan ukuran ras, warna kulit, bahasa dan kekayaan melainkan tingkah laku anda.

Bukan hanya pada teori Islam mempunyai cara tersendiri yang praktis dalam merealisasikan ini. Semua setiap orang boleh berbicara mengenai Tuhan dan persahabatan manusia. Kristen mengajarkan, Yahudi mengajarkan, Islam mengajarkan Tuhan itu satu dan anda ciptaan-Nya.
Manusia mencintai Tuhan dan sesamanya. Tapi bagaimana menerapkan persaudaraan umat manusia itu?

Dalam Islam ada sistemnya.


Lima kali sekali setidaknya kita diminta untuk berjamaah, merapatkan bahu kulit, hitam dengan kulit putih, si kaya dengan dengan yang miskin.

Orang Afrika dengan orang India, orang Arab dengan orang Melayu, setiap orang saling merapatkan bahu langkahnya sama dengan pikiran yang sama berdiri sama tinggi tak ada jurang pemisah antara satu orang dengan yang lainnya.

Anda tahu ini adalah sholat wajib sehingga setan tidak akan bisa masuk di sela-sela diantara anda dan saudara.

Bukan setan yang ada lihat di pameran seni anda lihat dia bertanduk tajam, berekor, wajahnya kemerah-merahkan? Tidak!

Bukan seperti itu setan.

Seperti Nabi yang mulia Muhammad SAW katakan supaya tidak ada ruang yang renggang antara satu dengan yang lainnya sehingga setan tidak bisa masuk ketengah-tengah kamu dan saudaramu.




Setan yang dimaksud Rasul itu adalah rasial yang anda tanyakan itu.


Saya kulit putih dia hitam, saya kaya dia miskin. Setan tidak boleh masuk ke sela-sela diantara kamu. Tapi jika kamu renggang maka akan terjadi rasialisme itu.

Ih dia Negro, saya Arab, dia orang asing. Tidak boleh setan diberi kesempatan sehingga berdirilah anda rapat sama bahu dengan saudaramu.

Itulah sistem praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam skala lingkungan yang lebih besar diterapkan dalam sholat Jumat. Di sana harus ada satu Masjid jami ini mendidik agar membuat orang tidak keluar, mereka berdatangan ke tempat umum yang sama.

Dalam tingkat yang mendunia pergilah anda melaksanakan ibadah haji. Hai anda yang datang dari Tamil, dia orang Muslim? Saya pikir dia Hindu. Anda yang berambut pirang dan bermata biru seperti orang Norwegia atau Jerman, dia muslim dari Turki. Ya itu meniadakan rasialisme kebangsaan.

Inilah sistem tidak hanya bicara yang menyebabkan persatuan lima kali dalam satu hari shalat. Di akhir shalat kita mengucapkan salam kepada orang yanga da di kanan kita "Kedamaian dan rohmat Allah untuk anda" yang berada di kananku, saya lihat disini ada orang yang datang dari Tokyo. Assalamu'alaikum warahmatulloh, saya lihat di sini ada orang yang datang dari Afrika, disamping saya ada orang China. Assalamu'alaikum warahmatulloh saya lihat di sini ada orang yang datang dari Timbatu.


Inilah cara Islam menghilangkan rasialisme. Tidak hanya cukup dengan bicara. Allah SWT meletakkan sistem sehingga Alhamdulillah kami orang muslim yang paling sedikit masalah rasial di dunia.

Kita masih memiliki masalah rasial ini sebagai warisan masa lalu kami, karena nenek moyang kami menganut agama hindu. Di India kita punya sistem kasta, membagi manudia menjadi empat kelompok yang berbeda. Di Afrika Selatan juga ada empat pembagian kelompok yang berbeda di negara saya.

Saya muslim tetapi lingkungan kami terus menerus memilah-milah orang kasta paling tinggi, Brahma yang tidak bisa disentuh oleh hukum di lain pihak ada kasta yang paling rendah. 5000 darah orang hindu mengalir menjadi kepedihanku sehingga masalah rasial ini masih menjadi kenangan kami, mudah-mudahan anda paham itu.

Tapi jika dibanding orang lain secara keseluruhan kami orang muslim memiliki masalah rasial yang paling sedikit di dunia.

Siapa yang paling sedikit? Islam

Islam tidak hanya berbicara tetapi memberikan cara bagaimana memecahkan masalah ini.


Sumber :
http://www.semarakfm.net/2015/12/hukum-merapatkan-meluruskan-shaf.html
https://www.youtube.com/watch?v=CwhiMuY_wKg&feature=youtu.be