Sunday, October 29, 2017

Kondisi Ekonomi vs Ekonomi Digital

Sabtu kemarin tepat peringatan hari Sumpah Pemuda, aku ikut serta dalam acara Surabaya Study Group yang diadakan di Ibis Budget Hotel, tepatnya di ruangan Lotus Meeting Room, mulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00.

Bukan inti materi yang akan aku tulis di artikel ini, namun mengenai obrolan ringan saat coffee break. Salah satu peserta tersebut bicara mengenai kondisi salah satu supermarket besar di Indonesia yang tidak dapat membayar tagihan dari supplier.

Apakah benar bahwasanya supermarket tersebut sepi dikarenakan banyak orang yang beralih dari belanja konvensional ke belanja online? Berikut adalah analisa setelah membaca artikel di detik finance.

Awalnya aku tidak percaya. Namun setelah melihat salah satu artikel di detik finance, ternyata ada benar apa adanya. Bukan hanya supermarket tersebut, namun juga ritel lain yang sudah tutup lebih awal, misalnya 7-Eleven, Lotus dan Debenhams. Serta Hero dan Ramayana melakukan efisiensi habis-habisan.

Belanja online untuk metode pembayaran harus menggunakan produk perbankan misalnya Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan kartu kredit. Di Indonesia terdapat 36% masyarakat yang memanfaatkan fasilitas perbankan (bankable). Sehingga sisanya yaitu 64% masih belum bankable.

Dari 36% yang bankable pun yang melakukan belanja online adalah anak muda, karena generasi tua lebih sulit untuk mengerti aplikasi semacam e-commerce.

Jadi perkirakan peralihan belanja konvensional ke belanja online tak lebih 2%. Sehingga kurang tepat jika penurunan tingkat konsumsi atau daya beli masyarakat dikarenakan faktor ekonomi digital atau e-commerce.

Data lain ditampilkan mengenai saving atau tabungan dan investasi, yaitu total dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional, sebagai berikut :
Tahun 2014 : Rp. 4.114 triliun
Tahun 2015 : Rp. 4.143 triliun, naik 7,27%
Tahun 2016 : Rp. 4.836 triliun, naik 9,59%

Atau jika ditampilkan bulan Mei vs bulan Mei, sebagai berikut :
Periode Mei 2016 : Rp 4.508 triliun
Periode Mei 2017 : Rp 5.012 triliun, naik 11,18%

Bisa disimpulkan beberapa masyarakat kini tidak terlalu berani spending atau belanja, namun lebih ke saving atau tabungan.


Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3705099/jawaban-kebingungan-banyak-orang-tentang-kondisi-ekonomi-ri