Sunday, October 29, 2017

Kondisi Ekonomi

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel selanjutnya yaitu Kondisi Ekonomi vs Ekonomi Digital. Yaitu artikel kondisi ekonomi dan hubungannya dengan ekonomi digital atau yang biasa disebut dengan e-commerce, serta hubungannya dengan pelemahan kondisi ekonomi di Indonesia.

Jika penyebab pelemahan kondisi ekonomi di Indonesia bukan karena e-commerce, lalu faktor apa yang menjadi penyebab pelemahan kondisi ekonomi di Indonesia? Mari kita lihat kondisi ekonomi mulai dari tahun 2006.

Tahun 2006, dimana Indonesia yang kaya akan sumber daya alam cukup menikmati hasil komoditas tersebut, misalnya batu bara, kelapa sawit dan mineral lainnya. Sehingga perekonomian Indonesia cukup terkatrol hingga di atas 6%. Dan tingkat konsumsi masyarakat rata-rata di kisaran 5,3-5,5%.

Tahun 2008, saat dunia terjadi krisis keuangan, Indonesia cukup dalam kondisi aman-aman saja.

Tahun 2010 harga batu bara mencapai US$ 100/ton. Sedangkan nilai tukar Dolar AS di kisaran Rp 8.000.

Tahun 2012, terjadilah apa yang tidak diinginkan, yaitu harga komoditas anjlok. Misalnya harga batubara yang turun menjadi US$ 70/ton. Bukan hanya batubara, tapi juga komoditas, lebih tepatnya komoditas mentah lainnya. Sehingga hal tersebut menyebabkan tingkat konsumsi masyarakat turun ke level 5%.

Tahun 2013, terjadi guncangan pasar keuangan di Amerika Serikat (AS), dimana Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menghentikan stimulus dan berencana menaikan suku bunga acuan. Hal ini menyebabkan dana asing di Indonesia kembali ke AS. Sehingga nilai tukar rupiah anjlok menjadi Rp 11.000.

Tahun 2014 nilai tukar rupiah bahkan mencapai Rp 14.000.

Terjadilah penurunan konsumsi masyarakat atau daya beli masyarakat. Hal ini bisa dilihat dimana pusat perbelanjaan glodok dan WTC Mangga Dua menjadi sepi.


Sumber :
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3705099/jawaban-kebingungan-banyak-orang-tentang-kondisi-ekonomi-ri