Wednesday, November 1, 2017

Badai El Nino

El Nino adalah fenomena peningkatan suhu muka laut di Samudra Pasifik, sekitar khatulistiwa bagian tengah dan timur, atau tepatnya di antara pesisir barat Amerika Latin dan Asia Tenggara, akibat sistem interaksi laut dan atmosfer. El Nino merupakan anomali iklim di Pasifik Selatan.

Efek dari El Nino adalah adalah kekeringan panjang melanda di Indonesia, namun tidak hanya di Indonesia, efek El Nino juga dirasakan ke seluruh penjuru dunia dan seringkali berujung pada bencana alam. Sementara El Nino menyebabkan curah hujan tinggi di Amerika Latin, belahan bumi lainnya terancam kekeringan.

Untuk mengetahui penyebab terjadinya badai El Nino, mari kita simak mengenai sirkulasi Walker berikut.

Sirkulasi Walker disebabkan oleh gaya gradien tekanan yang berasal dari satu area tekanan udara tinggi di wilayah timur Samudra Pasifik dan satu area tekanan udara rendah di wilayah Arkipelago Indonesia. Perubahan gerakan Sirkulasi Walker terjadi bersamaan dengan perubahan suhu permukaan, dimana terjadi akibat faktor eksternal seperti perubahan musim dengan gerak semu Matahari.

Sirkulasi Walker untuk periode selain El NiƱo berada sebagai angin timur di permukaan yang menggerakkan air laut dan udara yang dihangatkan oleh Matahari menuju ke barat. Upwelling pun terjadi di perairan Peru dan Ekuador. Kelembaban yang terakumulasi menimbulkan taifun dan badai petir. Samudra Pasifik pun lebih tinggi sekitar 60 sentimeter (24 in) di bagian barat akibat dari pergerakan ini.

Nama El Nino mempunyai arti bocah lelaki. Nama ini muncul dari dimana badai El Nino ini cenderung mencapai klimaks sekitar periode Natal. Para nelayan Peru, yang terkena dampak terbesar karena kekurangan pancingan, menyebut fenomena iklim ini El Nino – berarti ‘bocah lelaki' dalam bahasa Spanyol, yang kalau menggunakan huruf kapital merujuk pada bayi Yesus.

Efek badai El Nino cukup dahsyat, misalnya yang terekam pada tahun 1998.

El Nino pada 1998 mengacaukan sistem cuaca dunia sehingga menjadi pemicu beberapa peristiwa cuaca ekstrem. Dimana pada tahun tersebut terjadi sejumlah peristiwa banjir dan kenaikan suhu yang tidak biasa di belahan bumi utara.

Siklus waktu terjadinya El Nino secara alami setiap 2-7 tahun, namun jika dirata- rata, El Nino akan terjadi sekitar empat tahun satu kali. Hingga saat ini, El Nino tercatat sudah terjadi selama 23 kali.

Sebelumnya juga pernah tercatat badai El Nino yang dahsyat yang melanda pada tahun 1950.

El Nino mengakibatkan banjir terburuk selama 50 tahun di Paraguay, Argentina, Uruguay, dan Brazil, sehingga memaksa lebih dari 150.000 warga meninggalkan rumah mereka. Di AS, 13 orang tewas di negara bagian Missouri akibat sungai yang meluap setelah tornado dan badai melanda wilayah itu.
Delapan kilometer bagian dari Sungai Mississippi dekat St Louis ditutup untuk kapal, akibat "kondisi berbahaya" yang diakibatkan badai.

El Nino juga dihubungkan dengan Badai Frank yang mengakibatkan banjir di Inggris utara, sehingga memaksa ribuan warga mengungsi dari rumah mereka dan meninggalkan ribuan lainnya tanpa listrik.

Selain itu badai Frank juga menyebabkan kenaikan suhu tidak normal di Arktik, dimana pemantau cuaca dekat Kutub Utara mengukur suhu di atas titik beku saat angka normal sekitar 25 derajat Celsius.


Sumber :
http://sains.kompas.com/read/2015/07/22/01530491/El.Nino.Menguat.akibat.Anomali.Angin
http://www.dw.com/id/apa-itu-el-nino/a-17801255
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151231_majalah_elnino
https://ilmugeografi.com/fenomena-alam/proses-terjadinya-el-nino-dan-la-nina
https://id.wikipedia.org/wiki/El_Ni%C3%B1o%E2%80%93Osilasi_Selatan