Friday, November 3, 2017

Redam Amarahmu

Melihat kondisi di Indonesia melalui media online cukup mengejutkan dan mengagetkan. Banyak diwarnai oleh emosi dan amarah. Saya tidak akan membahas obyek yang menjadi fokus emosi dan amarah. Namun kita coba lihat dari sisi subyeknya, yaitu kita sendiri.

Apakah kita perlu emosi dan marah? Padahal bangsa kita, rakyat Indonesia terkenal akan perilaku tenggang rasa, tolerasi dan tepo seliro yang tinggi.

Saya memilih menyalakan lilin kecil daripada mengutuk kegelapan.

Ya, sebisa mungkin kita mencoba mencari dan membuat cahaya kecil yang dapat menerangi kegelapan yang melanda, daripada diam diri dan hanya mengumbar amarah akan kondisi yang melanda.

Jika pun tidak bisa melakukan sesuatu yang kecil, setidaknya kita dapat meredam amarah kita sendiri. Seperti lagu dari Musikimia yang berjudul Redam.


Redam
Musikimia

begitu mudahnya memancing kemarahan
hanya karena salah paham
kita boleh berbeda, kita memang tak pernah sama
meskipun berbeda tapi kita harus tetap utuh

redam semua amarahmu
jangan sampai kau ditaklukkan dengan nafsumu sendiri
tolong tahan emosimu
tak perlu diungkapkan dengan kekerasan
dan cobalah hadapi dengan hati yang dingin

begitu indahnya perbedaan
bila kita bisa merangkai berjuta nada menjadi melodi
kita bebas berpendapat
kita bisa bicara apa saja tanpa saling menyakiti, saling memahami

redam semua amarahmu
jangan sampai kau ditaklukkan dengan nafsumu sendiri
tolong tahan emosimu
tak perlu diungkapkan dengan kekerasan
dan cobalah hadapi dengan hati yang dingin, hati yang dingin

redam semua amarahmu
jangan sampai kau ditaklukkan dengan nafsumu sendiri
tolong tahan emosimu
tak perlu diungkapkan dengan kekerasan

redam amarahmu

redam semua amarahmu
jangan sampai kau ditaklukkan dengan nafsumu sendiri
tolong tahan emosimu
coba hadapi dengan hati yang dingin