Monday, November 30, 2015

Metatarsus Adductus (lagi)

Artikel yang aku tulis masih seputar Metatarsus Adductus, yaitu kelainan yang diduga diidap oleh Rafa, anakku. Kali ini aku masih penasaran apa penyebab anakku kok bisa mengalami Metatarsus Adductus.

Kelainan pada kaki ada beberapa jenis yaitu :
  1. Telapak kaki leper (flat foot), 
  2. Lengkung kaki terlalu tinggi (high arch), 
  3. Jari ke arah dalam (metatarsus adductus), 
  4. Gaya jalan dengan kaki mengarah ke dalam (toe in) dan mengarah keluar (toe out).
Sumber : www.orthoanswer.org

Penyebab kelainan pada kaki kebanyakan faktor genetik dan akibat gangguan tumbuh kembang organ tubuh lainnya. Salah satu penyebab dari beberapa artikel yang aku baca adalah karena Rafa tidak mengalami fase merangkak. Saat kecil sebelum berjalan dia ngesot bila bergerak

Artikel lain menjelaskan bahwa telapak kaki bayi pada umumnya datar karena dilapisi bantalan lemak dan belum aktif digunakan. Kemudian secara bertahap seiring bertambahnya usia, pola lengkung kaki mulai terlihat pada usia 2 tahun. Akan tetapi, ada anak yang memang terlahir dengan telapak kaki saja yang datar tapi tungkai dan paha normal.

Sedari kecil sih memang sudah teridentifikasi mengenai kaki Rafa yang sering mengarah kedalam, terutama saat lari. Namun karena tidak pernah ada keluhan sehingga kita anggap baik-baik saja, tidak ada masalah yang harus diperiksa.

Penyebab kelainan kaki diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Ruang gerak sempit di dalam rahim, kaki anak 'terkunci' di satu posisi sampai lahir (banyak dialami anak kembar).
  2. Posisi tidur yang salah. Misalnya tengkurap seperti katak. jika berlangsung lama, kebiasaan ini dapat mengakibatkan gangguan rotasi dan bentuk tungkai.
  3. Kebiasaan duduk yang salah. Misalnya duduk dengan posisi kaki membentuk huruf W.
  4. Kebiasaan menggendong yang salah, misalnya saat digendong menyamping, kaki si kecil terentang melingkari tubuh Moms dan membentuk sudut 90 derajat.
  5. Memakai popok sekali pakai (disposable diapers) dengan cara dan saat yang tidak tepat. Misalnya terus menerus pada saat si kecil sedang belajar jalan. Hal ini membuat anak sulit menemukan posisi kaki yang stabil. Diapers yang kebesaran dan mengganjal juga membuat anak sulit berjalan.
  6. Memakai baby walker yang tidak sesuai umur dan tidak sesuai ukuran tinggi duduk. Si kecil yang belum cukup kuat menopang tubuhnya akan memaksakan salah satu kakinya untuk menyangga seluruh berat tubuhnya. Akibatnya tungkai bawah dan pergelangan kaki saja yang terlatih, sehingga terjadi ketidakseimbangan kekuatan otot (muscle imbalance).



Sumber :
http://lifestyle.okezone.com/read/2011/09/16/195/503581/kenali-kelainan-kaki-si-kecil-sejak-dini
http://www.kompasiana.com/ninohistiraludin/melatih-anak-berjalan-dengan-keseimbangan-kurang-dan-flat-foot_552fc6226ea834e6368b456c