Thursday, August 30, 2018

Retorika Destruktif vs Narasi Konstruktif

Sebuah negara bisa bubar karena utang atau faktor ekonomi seperti negara Yunani yang bangkrut. Namun sebuah negara juga bisa berantakan jika para elite politik tidak memiliki rasa kenegarawanan, sehingga yang muncul hanya bahasa retorika destruktif tanpa ada narasi konstruktif.


Akhir-akhir ini kita bisa melihat Erdogan vs Trump, dimana Erdogan mendesak agar AS berhenti mempersenjatai YPG, sedangkan Trump mengungkapkan keprihatinan terkait sejumlah retorika destruktif yaitu anti-Amerika yang dianggap keliru.

Untuk itu kita sebagai manusia hendaknya selalu melakukan cek dan recheck saat mendapat berita dan informasi sehingga bisa mendapatkan data yang benar, akurat dan lengkap, sehingga tidak dibodohi oleh retorika destruktif.

Retorika destruktif juga acap kali kita lihat di TV, sering kita dengar di Radio dan senantiasa kita baca di media cetak terlebih media sosial.

Sebaliknya kita baiknya sebagai kaum intelektual dan produk terdidik dapat memaknai hidup kita dengan narasi konstruktif bagi Indonesia. Kita akan terbuka saat dipaparkan dengan narasi konstruktif sehingga secara emosional bisa menggerakkan hati, menggerakkan kesadaran.

Mari kita sajikan narasi konstruktif yang membangun, sehingga nantinya diharapkan dapat memberikan masukan kepada masyarakat, pemerintah dan politikus negeri bagaimana seharusnya bersikap.

Jika kita hanya berkutat pada berita hoaks, kemudian saling mencela, saling mencemooh, maka energi kita akan habis. Lebih baik kita fokus kepada membangun pola pikir baru, optimisme dan berpikir positif.

Semoga Indonesia bisa lebih baik kedepan.


Sumber foto :
http://ahsanarya.blogspot.com/2014/04/apa-itu-retorika.html