Thursday, January 18, 2018

Gojek dan Alphabet

Sharing economy sebagai bentuk new economy merupakan konsep dari collaborative consumption menjadi bentuk model bisnis baru yang didasarkan pada konsep berbagi sumber daya (shared resources). Bentuk sharing ekonomi yang bergerak di bidang transportasi yang sering kita jumpai adalah Uber, Grab dan Gojek.

Fenomena Go-jek menjadi revolusi industri transportasi dimana Go-jek menjadi social enterpreneurship inovatif untuk mendorong perubahan sektor transportasi informal agar dapat beroperasi secara profesional. Go-Jek merupakan inovasi disruption business yang mampu mengubah perilaku pasar pada umumnya yang sudah berjalan sebelumnya.

Fenomena transportasi berbasis aplikasi, dalam hal ini taxi dan ojek ini sempat membuat heboh di Indonesia hingga diangkat menjadi salah satu topik acara televisi yang terkenal, yaitu Indonesia Lawyer Club.

Sebelumnya Go-jek mendapatkan suntikan dana investasi dari Tencent Holdings Ltd, media sosial Tiongkok.

Sebelumnya juga JD.com Inc menginvestasikan sekitar US$100 juta di Gojek.

Kali ini Go-jek mendapatkan suntikan dana investasi dari Alphabet, induk perusahaan Google dan beberapa rekan (Temasek Holdings, KKR & Co, Warburg Pincus LLC dan Meituan-Dianping) senilai US$1,2 miliar (Rp16 triliun, asumsi kurs US$1 = Rp13.300).

Dengan pendanaan raksasa dari Google, Gojek akan memiliki ruang lebih dalam persaingan industri yang sama dengan Grab dan Uber. Pasalnya, untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk terbanyak menjadi pasar yang sangat potensial.


Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180118145516-185-269890/google-suntik-dana-segar-rp16-triliun-untuk-gojek/