Friday, June 3, 2016

Muhammad Ali

Float like a butterfly, sting like a bee

Cassius Marcellus Clay

Cassius Marcellus Clay, Jr  lahir di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat, pada tanggal 17 Januari 1942, mengikuti nama ayahnya yaitu Cassius Marcellus Clay, Sr. yaitu seorang pelukis billboard (papan iklan) dan rambu lalu lintas dan ibu Odessa Grady Clay, seorang pencuci pakaian.

Tahun 1954, saat berusia 12 tahun, Clay, jr. melapor ke Joe Martin, seorang polisi sekaligus petinju, bahwa sepeda BMX barunya dicuri. Joe Martin mengajari Clay kecil cara bertinju agar dapat menghajar si pencuri sepeda.

Tahun 1960, Clay jr. meraih medali emas kelas berat ringan Olimpiade 1960 di Roma, Italia. Tahun 1960 juga menjadi debut pertama di ring profesional dengan hasil menang angka 6 ronde atas Tunney Hunsaker.

Sebelum masuk Islam, dia menjuluki dirinya dengan “Yang Terbesar” karena dia adalah petinju terbaik pada masanya, hal ini juga diamini oleh pengamat olah raga dikarenakan dalam sejarah tinju belum pernah mengenal petinju secepat dia. Gaya bermain Clay gesit di atas ring dan memukul KO lawannya, lalu berseru dengan bangga, “Akulah yang terbesar”.

Tahun 1964, Clay mampu merebut gelar juara dunia kelas berat dengan menang TKO pada ronde ke 7 (dari total 15 ronde) atas Sonny Liston di Florida, Amerika Serikat. Liston mengalami cedera pada leher yang membuatnya mengundurkan diri dari pertandingan.


Muhammad Ali

Saat menang atas Liston, Clay mengumumkan telah memeluk agama Islam sekaligus mengganti namanya menjadi Muhammad Ali. Nama tersebut merupakan pemberian seorang tokoh Muslim dari Nation of Islam (NOI), Elijah Muhammad, pada tahun 1964.

Elijah Muhammad dalam pernyataan di siaran radio dari Chicago, ''Nama Clay ini tidak menyiratkan arti ketuhanan. Saya harap dia akan menerima dipanggil dengan nama yang lebih baik. Muhammad Ali, nama yang akan saya berikan kepadanya selama dia beriman kepada Allah dan mengikuti saya.''

Tahun 1965 terjadi tanding ulang antara Muhammad Ali vs Liston. Pada pertandingan rematch ini Ali menang dengan pukulan yang disebut dengan 'phantom punch', yaitu pukulan yang sebegitu cepat, sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh.

Tahun 1967 - 1970 Muhammad Ali mendapatkan hukuman berupa skorsing oleh Komisi Tinju karena menolak program wajib militer pemerintah Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Saat itu ungkapan Muhammad Ali sangat fenomenal yaitu "Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!"

Tahun 1971, Ali kalah angka dari Joe Frazier di New York, dan harus menyerahkan gelarnya. Pertandingan ini tidak hanya mempertemukan dua juara dunia tak terkalahkan di ring tinju. Tapi juga merupakan pertarungan ini penuh dengan simbol-simbol sosial pada jamannya.

Muhammad Ali menolak wajib militer tahun 1967, dicabut gelarnya dan dilarang bertinju, sehingga Muhammad Ali dianggap menjadi simbol anti-kemapanan sementara Frazier dianggap sebagai warga yang baik dan penurut.

Tahun 1973, Muhammad Ali berziarah ke Mekkah tahun 1973, berkali-kali dia kesana dan juga ke Madinah Al-Munawwarh. Dia memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelum masuk Islam, dan memohon kepada-Nya agar memberinya husnul khatimah.

Tahun 1973, Muhammad Ali bertanding tinju melawan Rudi Lubbers di Indonesia, yaitu tepatnya pada 20 Oktober 1973. Pertandingan tinju 12 ronde kelas berat tanpa gelar ini diadakan di Istora Senayan, Jakarta.

Tahun 1974, dalam pertandingan yang mempunyai julukan Rumble in the Jungle, Muhammad Ali merebut kembali gelar juara dunia kelas berat WBC dan WBA setelah menumbangkan George Foreman di Kinsasha, Zaire pada ronde ke 8.

Tahun 1975, pertandingan Thrilla in Manila, yang mempertemukan Muhammad Ali melawan Fraizer III. Hasilnya Muhammad Ali menang TKO ronde 14 dalam pertandingan yang sangat seru dan menegangkan, bahkan disebut sebagai salah satu "pertandingan tinju terbaik abad ini".

Pertarungan Muhammad Ali vs Sony Liston memang benar telah melambungkan nama Muhammad Ali. Namun saat itu Liston yang tua yang fisiknya sedikit kedodoran. Pertarungan Muhammad Ali vs George Foreman juga memiliki narasi hebat. Namun sejatinya pertarungan Muhammad Ali vs Frazier merupakan pertarungan tinju legendaris yang terbaik sepanjang masa.

David Halberstam mengatakan bahwa tanpa tiga pertarungan melawan Joe Frazier, seorang Muhammad Ali tidak akan menjadi sosok fenomenal dan tidak akan menjadi petinju yang terkuat dan terhebat. Bahwa hanya petinju terbaiklah yang mampu memaksa Ali mengeluarkan permainan terbaiknya.

Tahun 1978, Muhammad Ali mengalahkan Leon Spinks dengan menang angka 15 ronde di New Orleans. Dengan kemenangan ini Muhammad Ali mengukuhkan diri sebagai petinju pertama yang merebut gelar juara dunia kelas berat sebanyak 3 kali.

Tahun 1979, Muhammad Ali menyatakan mengundurkan diri dari tinju, dan gelar dinyatakan kosong.


Sindrom Parkinson

Tahun 1980, dalam pertandingan yang mempunyai tajuk "The Last Hurrah", Muhammad Ali kembali ke ring tinju, melawan bekas kawan latih tandingnya, Larry Holmes, yang telah menjadi juara dunia kelas berat. Muhammad Ali kalah TKO pada ronde ke 11.

Sebenarnya sebelum pertandingan tersebut Muhammad Ali dinyatakan menderita gejala sindrom Parkinson seperti tangan yang gemetar, bicara yang mulai lamban, serta ada indikasi bahwa ada kerusakan pada selaput (membran) di otak Muhammad Ali.

Tahun 1981, pertandingan dengan tajuk "Drama in Bahama", Muhammad Ali bertanding tinju melawan Trevor Berbick di Bahama. Meski tampil bagus namun akhirnya Muhammad Ali kalah angka 10 ronde.

Setelah pertandingan ini, Muhammad Ali benar-benar pensiun dari dunia tinju.

Tahun 1996, Muhammad Ali kembali menginjak kakinya ke bumi Indonesia, tepatnya pada 23 Oktober 1996, dan sempat bertemu pejabat tinggi negeri ini.

Tahun 1999, Muhammad Ali dianugerahi "Sportsman of the Century" oleh Sports Illustrated.Ali tiga kali menjadi Juara Dunia Tinju kelas Berat.

Tahun 2016, pada bulan April Muhammad Ali tampil di depan publik pada acara "Celebrity Fight Night" di Arizona, acara amal yang dananya disalurkan untuk organisasi Muhammad Ali Parkinson Center.

Tahun 2016, petinju dunia legendaris Muhammad Ali dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit di Phoenix, Amerika Serikat pada Jumat, tepatnya pada tanggal 3 Juni 2016.


Terdapat sebuah hal yang menarik dari tanya jawab dengan Muhammad Al, yaitu berikut cuplikannya

Ketika melawan Ken Norton, rahang Anda rusak tetapi Anda masih berjuang selama 12 ronde. Ketika melawan Sony Liston, satu mata Anda buta dan hampir tidak bisa melihat selama ronde berlangsung, namun Anda masih menang. Apa yang membuat Anda tegar?

Salat.

Saya mendengar bahwa sebelum Anda masuk Islam, Anda tidak bisa membaca dengan baik?

Saya menderita disleksia. Saya tidak pernah fokus pada mekanisme membaca, tapi sekarang saya bisa menghabiskan berjam-jam sehari membaca. Ketika saya membaca Quran, saya akan menyalin bagian-bagian yang benar-benar menyentuh saya. Saya membaca buku-buku Islam, dan buku riset.

Apa yang menjadi prestasi terbesar Anda?

Memeluk Islam.


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali
http://news.detik.com/internasional/3225402/petinju-legendaris-muhammad-ali-meninggal-dunia-ini-pernyataan-keluarga
http://www.biografiku.com/2010/06/biografi-muhammad-ali-juara-dunia-tinju.html
http://www.cnnindonesia.com/olahraga/20150112210414-178-24133/frazier-dan-kisah-kebencian-tragis-pada-muhammad-ali/
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/09/05/26/52434-muhammad-ali-bersyahadat-di-atas-ring-tinju
http://www.eramuslim.com/berita/bincang/muhammad-ali-prestasi-saya-yang-paling-hebat-adalah-memeluk-islam.htm#.V1J6g75kjIU
http://www.bbc.com/indonesia/olahraga/2011/06/110627_boxing.shtml